SpongeBob SquarePants

Jumat, 03 April 2020

Akuntansi Keuangan Menengah-Currnet Liabilities



KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

A.    DEFINISI KEWAJIBAN
Dalam akuntansi, utang didefinisikan sebagai pengorbanan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang yang memungkinkan terjadi akibat kewajiban suatu badan  usaha pada masa kini untuk mentransfer aktiva atau menyediakan jasa pada badan usaha lain dimasa yang akan datang  sebagai akibat transaksi atau kejadian dimasa lalu.
Dilihat dari jangka waktu pelunasannya, utang diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu Utang jangka pendek (utang lancar) dan utang jangka panjang (utang tidak lancar). Seperti halnya yang telah tercantum di dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.9 dinyatakan bahwa perusahaan wajib menyajikan kewajibannya berdasarkan klasifikasi lancar dan tidak lancar pada waktu menyusun laporan keuangan.Untuk membedakan mana yg merupakan kewajiban lancar dan tdk lancar adalah jangka waktu jatuh temponya kewajiban janka panjang.


B.     KEWAJIBAN JANGKA PENDEK (UTANG LANCAR)
Menurut PSAK No9 Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama. Yang dimaksud dengan satu siklus operasi normal adalah waktu yang diperlukan agar uang kontan dapat diubah menjadi persediaan barang, persediaan barang diubah menjadi piutang usaha dan akhirnya piutang usaha diubah menjadi uang kontan kembali.
Pada umumnya, Hutang lancar adalah kewajiban-kewajiban yang akan diselesaikan pembayarannya dengan menggunakan sumber-sumber ekonomi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar atau dengan menciptakan utang yang baru.



C.    KLASIFIKASI KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
1.      KEWAJIBAN JANGKA PENDEK YANG JUMLAHNYA SUDAH PASTI
Kewajiban jangka pendek yang dikatakan sudah pasti apabila memenuhi dua syarat:
1.      Kewajiban untuk membayar sudah pasti, artinya sudah terjadi transaksi yang menimbulkan kewajiban membayar.
2.      Jumlah yang harus dibayar sudah pasti.
Jenis utang yang termasuk dalam kriteria diatas adalah sebagai berikut:
a)   Utang usaha/dagang (account payable)
Utang dagang adalah kewajiban jangka pendek yang timbul sebagai akibat aktivitas normal perusahaan seperti : Pembelian secara kredit barang dagangan, bahan baku, perlengkapan kantor, dan sebagainya. Utang dagang biasanya diakui pada waktu terjadi penyerahan barang atau jasa dari penjual ke pembeli. Waktu perpindahan hak kepemilikan dan resiko umumnya didasarkan pada waktu penyerahan barang, namun apabila antara pembeli dan penjual karena suatu hal tidak memungkinkan dilakukan penyerahan barang secara langsung, maka penetapan waktu perpindahan hak kepemilikan dan resiko didasarkan pada syarat pengiriman yang disepakati. Ada dua syarat pengiriman, yaitu:
a.       Free on Board Shipping Point. Dalam FOB Shipping Point perpindahan hak kepemilikan dan resiko atas barang yang diperjual belikan terjadi pada saat barang keluar dari gudang penjual atau pada saat barang diserahkan ke pihak pengiriman.
b.      Free on Board Destination. Dalam FOB Destination perpindahan hak kepemilikan dan resiko barang yang diperjual belikan adalah pada saat barang-barang tsb sampai di gudang pembeli.
jurnal yang dibuat adalah:

Pembelian

xxx


Utang dagang

xxx

Pencatatan Utang Dagang dapat dilakukan dengan metode bruto atau dengan metode neto.
Contoh :
Pada tanggal 25 Januari PT. Mentari membeli barang dagangan secara kredit seharga Rp 200.000,- dengan termin 2/10  n/30
Penyelesaian :
Jurnal
(asumsikan dengan metode neto)
Pembelian                    Rp 196.000
                        Utang Dagang             Rp 196.000

Jika potongan tunai tersebut tdk diambil maka pencatatannya adalah :
Utang Dagang                                     Rp 196.000
Pot. Pembelian yg tdk diambil            Rp       4000
                        Kas                                                      Rp 200.000
b)   Hutang Wesel (Notes Payable)
Hutang Wesel adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang yang akan datang kepada pihak lain. Timbulnya hutang wesel bisa pada waktu pembelian barang atau jasa setelah pembelian barang terjadi. Hutang wesel ada yang dijamin, ada juga yang tanpa jaminan. Selain itu wesel bisa disertai adanya bunga namun bisa juga tanpa bunga. Dalam praktek, wesel yang timbul karena perdagangan barang, ditarik melalui perjanjian antara bank dan penarik wesel. Pembeli harus disetujui lebih dahulu oleh Bank.
Jurnal yang dibuat pada saat diterbitkan wesel bayar adalah:

Utang Dagang

xxx


Utang Wesel

xxx



Contoh :
Pada tanggal 15 Januari 2010 PT Sulis membeli sebuah barang dari PT Wiguna dengan harga Rp 100.000,- secara kredit. Pada tanggal 30 januari 2013 PT Suci menyerahkan sebuah wesel, nominal Rp 100.000,- bunga 5% dg jangka waktu 2 bulan, untuk membayar utangnya.
Diminta:
a.                   Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi tanggal 15 januari 2013
b.                  Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi tanggal 30 januari 2013
Penyelesaian :
Pada Tanggal 15 januari 2013
*mencatat pembelian secara kredit    
            Pembelian                                Rp 100.000
                                    Utang Dagang             Rp 50.000

Tanggal 30 Januari 2013
*mencatat penerbitan wesel bayar
            Utang Dagang                         Rp 100.000
                                    Utang Wesel                     Rp 100.000

c)   Hutang jangka panjang yang jatuh tempo
Hutang ini terjadi jika dalam ketentuan perjanjian hutang jangka panjang yang bersangkutan menyebutkan pembayaran dengan angsuran. Bagian angsuran yg jatuh tempo dalam tahun buku yang bersangkutan dibukukan dalam kelompok kewajiban jangka pendek.
Contoh :
Pada tahun 2010 PT Sulis mempunyai utang kepada Bank dengan jangka waktu 5 tahun sebesar Rp 10.000.000. Pada  tahun 2011 perusahaan harus mengangsur Rp 1.500.000.
Penyelesaian :

Jurnal
            Kewajiban Jangka Panjang (Bank)                 Rp 1.500.000
                        Kewajiban Jangka Pendek (Bank)                  Rp 1.500.000

Dengan adanya jurnal reklasifikasi tersebut, maka dalam laporan keuangan akan nampak besarnya kewajiban jangka pendek sebesar Rp 1.500.000,- sedangkan kewajiban jangka panjang sebesar 8.500.000.

d)   Hutang Deviden
Hutang Deviden timbul pada saat dewan direksi perusahaan yg berbentuk perseroan mengumumkan adanya pembagian deviden dan terhutang sampai dengan dibayarnya deviden. Dengan adanya pengumuman pembagian deviden tersebut menjadikan keberadaan hutang deviden menjadi pasti.
Jurnal yang harus dibuat pada saat pengumuman Deviden adalah:

Laba ditahan

xxx


Utang deviden

xxx

Contoh :
Pada tanggal 3 Maret 2013 PT Wiguna mengumumkan akan membagikan deviden sebesar Rp 2.000.000 yang akan dibayarkan pada tanggal 3 April 2013.
Penyelesaian:
Jurnal
Mencatat adanya utang deviden
            Laba  ditahan              Rp 2.000.000
                        Utang deviden                        Rp 2.000.000

e)   Hutang gaji dan hutang Biaya
Hutang Gaji dan hutang bunga, seperti biaya bunga, biaya iklan, biaya telepon, listrik, dsb, timbul karena adanya konsep accrual basis yang akan digunakan dalam akuntansi, yg antara lain menyatakan bahwa biaya yang dinikmati manfaatnya meskipun belum dibayar harus diakui. Oleh karena itu jika pada akhir periode terdapat gaji atau biaya yang sudah menjadi kewajiban meskipun belum dibayar harus diakui adanya hutang.
Jurnal yang dibuat untuk mencatat utang gaji dan upah adalah:

Gaji dan Upah

Xxx


Utang Gaji dan Upah

xxx

Contoh :
Pada tanggal 31 Desember 2013 data yang ada pada PT Wiguna menunjukkan adanya upah buruh yang belum dibayar selama 10 hari. Analisa berikutnya menunjukkan bahwa upah buruh per hari sebesar Rp 20.000
Penyelesaian:
Upah   = 10 hari @ Rp20.000
            = Rp200.000
Jurnal
            Gaji dan Upah             Rp 200.000
                        Utang gaji dan upah                Rp 200.000

f)     Utang Bonus
Untuk meningkatkan semangat kerja karyawannya maka biasanya perusahaan pd akhir tahun memberikan bonus kepada sebagian atau kepada seluruh karyawan. Sedangkan besarnya bonus yang diberikan bisa didasarkan pada :
1.      Gaji pokok
jika besarnya bonus didasarkan pd gaji pokok, maka dlm perhitungannya tdk ada masalah karena jumlah bonus yg dibayarkan dapat diketahui dan ditentukan jauh sebelum dibayarkan.
2.      Laba tahun berjalan
jika besarnya bonus dihitung berdasarkan pd laba, maka masalah yg timbul adalah laba yg mana sebagai dasar penentuan besarnya bonus. Ada beberapa  dasar yg bisa digunakan, yaitu :
Ø  Bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan PPh
Ø  Bonus dihitung dari  laba setelah dikurangi PPh, sebelum dikurangi bonus
Ø   Bonus dihitung dari laba setelah dikurangi bonus dan PPh.

Untuk memudahkan perhitungan maka dari beberapa dasar perhitungan bonus diatas dapat dibuatkan persamaan berikut :
B
=
bI
B
=
b (I – B)
B
=
b (I – P)
B
=
b (I – B – P)
Keterangan
:

b
=
Tarif bonus
I
=
Laba sebelum bonus dan pajak
B
=
Bonus dalam rupiah
P
=
Pajak
Adapun pajak (P) dapat dihitung dengan memasukkan tarif pajak (t) dalam persamaan. sehingga persamaan pajak adalah
P = t ( I – B )

Jurnal untuk mencatat utang bonus adalah:

Biaya Bonus

xxx


Utang Bonus

xxx

Jika bonus dibayar, maka jurnal yang dibuat:

Utang Bonus

xxx


Biaya Bonus

xxx


Contoh :
Pada awal tahun 2013 PT Wiguna telah memberikan bonus  kepada seorang manajer sebesar 10% dari laba perusahaan. Laba tahun 2013 sebelum pemotongan pajak dan bonus sebesar Rp 5.000.000. adapun tarif pajak yg berlaku adalah 15%.
Diminta :
a.  Laba sebelum bonus dan pajak
c.  Laba setelah pajak tetapi sebelum bonus
d.  Laba setelah pajak dan bonus.
Penyelesaian :
a. Laba Sebelum bonus dan Pajak
            B         = 0,10 x Rp 5.000.000
            B         = Rp 500.000,-
            P          = 15% (Rp5.000.000 – Rp500.000)
            P          = Rp675.000

b. Laba setelah bonus tetapi sebelum pajak
B         = 0,10 (Rp5.000.000 – P)
P          = 0,15 (Rp5.000.000 - B)
P dalam persamaan pertama diganti dengan persamaan kedua, maka B dihitung sebagai berikut:
B         = 0,10 [Rp5.000.000 – 0,15(Rp5.000.000 – B)
B         = 0,10 (Rp5.000.000 – Rp750.000 + 0,15B)
B         = Rp 500.000 - Rp75.000 + 0,015B
B – 0,015        = Rp425.000
0,985B                        = Rp 425.000
B                     = Rp425.000 : 0,985
B                     = Rp431.472,08

PPh dihitung dengan mengganti B dari persamaan kedua:
P          = 0,15 (Rp5.000.000 - B)
P          = 0,15 (Rp5.000.000 - Rp431.472,08)
P          = Rp4.568.572,92

c.       Laba setelah pajak tetapi sebelum bonus
B         = 0,10 (Rp5.000.000 – B - P)
P          = 0,15 (Rp5.000.000 - B)
P dalam persamaan pertama diganti dengan persamaan kedua, maka B dihitung sebagai berikut:
B         = 0,10 [Rp5.000.000 – B - 0,15 (Rp5.000.000 - B)]
B         = 0,10 (Rp5.000.000 – B – Rp750.000 + 0,15B)
B         = Rp500.000 – 0,10B – Rp75.000 + 0,015B
B + 0,10B – 0,015B    = Rp425.000
1,0985B                      = Rp425.000
B                                 = Rp425.000 : 1,0985
B                                 = Rp368.891,22
PPh dihitung dengan mengganti B dari persamaan kedua:
P          = 0,15 (Rp5.000.000 - B)
P          = 0,15 (Rp5.000.000 - Rp368.891,22)
P          = 0,15 (Rp4.631.108,78)
P          = Rp694.666,32

g) Uang muka dan Jaminan yang dapat diminta kembali
Uang muka yang merupakan pembayaran di muka dari pembeli untuk barang-barang yang dipesan sebelum barang diserahkan kepada pembeli maka uang muka tersebut merupakan Utang Jangka Pendek. Sedangkan jaminan yang diminta dari pelanggan yang dapat ditarik kembali sewaktu-waktu juga merupakan Utang Jangka Pendek.
Contoh:
pada tanggal 1 Januari 2011 perusahaan distributor menerima 300 minuman kemasan dalam botol dari produsen dan dikirim setiap bulan dengan jumlah yang sama. Botol-botol tersebut harus dikembalikan setiap 3 bulan sekali kepada produsen. Harga botol minuman tersebut adalah Rp250. Maka ayat jurnal yang diperlukan oleh Produsen untuk mencatat transaksi diatas adalah sebagai berikut:

penyelesaian:
harga botol      = 300 x 3 x Rp250
                        = Rp225.000
Pada saat menerima jaminan
1/1/2011           Kas                                         Rp225.000
                                     Utang jaminan botol                           Rp225.000

Pada saat mengembalikan jaminan
31/6/2011         Utang jaminan botol               Rp225.000
                                     Kas                                                      Rp225.000

h) Dana yang Dikumpulkan untuk Pihak Ketiga (Utang Pajak)
Perusahaan kadang-kadang akan menjadi pihak uang mengumpulkan uang dari langganan/pegawai yang nantinya akan diserahkan pada pihak lain. Pengumpulan ini dapat dilakukan dengan cara pemotongan upah pegawai atau membebani pembeli dengan jumlah-jumlah tertentu.
Contoh 1:
Pemotongan gaji karyawan karena PPh
PT Adiguna setiap bulannya membebani PPh 15% kepada karyawan. Pajak tersebut nantinya akan disetor ke kas negara. Apabila gaji karyawan pada bulan Agustus 2013 sebesar Rp2.000.000, maka berapa jumlah gaji yang akan diterima karyawan pada bulan Agustus? Buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Penyelesaian:
Perhitungan
Besarnya PPh              = 15% x Rp.2.000.000
                                    = Rp300.000
Gaji yang diterima      = Rp2.000.000 – Rp300.000
                                    = Rp1.700.000
Jurnal
Gaji dan upah              Rp2.000.000
            Utang PPh                               Rp300.000
            Kas                                          Rp1.700.000

Contoh 2:
Pembebanan PPN
Hasil penjualan PT Adiguna bulan Agustus 2013 sebesar Rp33.000.000 yang sudah termasuk PPN sebesar 10%. Buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Penyelesaian:
Perhitungan
PPN     = 10/110 x Rp33.000.000
            = Rp3.000.000
Jurnal
Kas                              Rp 33.000.000
            Penjualan                                 Rp30.000.000
            Utang PPN                              Rp3.000.000

i).      Pendapatan yang Diterima di Muka
Pendapatan Diterima di Muka belum boleh diakui sebagai Pendapatan karena perusahaan belum memberikan kontra prestasinya kepada pihak yang memberikannya. Pendapatan ini diperlakukan sebagai Kewajiban perusahaan sampai dengan kontra prestasi selesai dilakukan. misalnya : uang muka yang diterima untuk iklan di TV
Contoh:
Pada bulan April 2014 PT Senja menerima uang sebesar Rp3.000.000 dari PT Jingga atas iklan yang akan diterbitkan selama 6 bulan. Buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Penyelesaian:
Kas                                                      Rp3.000.000
            Pendapatan diterima dimuka                          Rp3.000.000

2.      TAKSIRAN UTANG/KEWAJIBAN DIESTIMASI
Biasanya jumlah kewajiban dari utang sudah dapat ditentukan dari kontrak atau dari perhitungan dengan dasar tarif tertentu. Terkadang jumlah kewajiban belum jelas tetapi sudah jelas harus dibayar, maka pada tanggal neraca dilakukan perhitungan jumlah kewajiban dengan cara taksiran.
Taksiran utang dapat dikelompokkan sebagai utang jangka pendek atau utang jangka panjang, tergantung saat pelunasannya. Beberapa taksiran utang jangka pendek dalam neraca adalah:
1.      Taksiran utang pajak penghasilan
2.      Taksiran utang hadiah yang beredar
3.      Taksiran utang garansi
4.      Taksiran utang pensiun

1.      Taksiran utang pajak penghasilan
Pada suatu perusahaan setelah laba diketahui pada akhir periode, diperlukan taksiran besarnya PPh yang akan menjadi beban tahun yang bersangkutan. Besarnya pajak biasanya ditaksir terlebih dahulu kemudian akan dicatat dengan jurnal.
Cara menghitung taksiran pajak:
Tarif pajak berlaku x Laba

Dicatat dengan jurnal:
Pajak Penghasilan

xxx


Utang PPh

Xxx









2.      Taksiran utang hadiah yang beredar
Utang hadiah adalah kewajiban yang timbul dalam periode hadiah, karena hadiah tersebut belum diambil oleh pelanggan. Hadiah ini akan diberikan apabila pembeli memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh penjual.
Untuk meningkatkan penjualan, suatu perusahaan dalam menjual produknya menyertakan kupon berhadiah uang tunai atau barang. Hadiah atas pembelian barang tertentu merupakan biaya untuk periode di mana penjualan barang tersebut terjadi. Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu:
·         Bila hadiah tersebut habis waktunya pada akhir periode, maka tidak perlu membuat jurnal penyesuaian
·         Bila jangka waktu pengambilan hadiah melampaui suatu periode akuntansi, maka pada akhir tahun dibuat jurnal penyesuaian.
Jumlah utang hadiah yang beredar dihitung dengan cara:
Taksiran x Jumlah Penjualan

Jurnal yang berkaitan dengan utang hadiah adalah sebagai berikut:
Pada saat pembelian persediaan
Persediaan hadiah  

xxx


Kas/Utang Dagang    

Xxx








Pada saat penyesuaian:
Biaya Hadiah Penjualan

Xxx


Utang Hadiah yg Beredar

Xxx








Pada saat memberikan hadiah
Biaya hadiah

Xxx


Persediaan hadiah

xxx

Contoh:
Pada tanggal 2 Februari 2011 sebuah swalayan membeli 30 unit barang untuk hadiah bagi pelanggan yang mengirimkan kupon berhadiah yang didapat pada saat mereka belanja seharga Rp15.000.000. hadiah akan diundi pada tanggal 5 januari 2012.
Diminta: Ayat jurnal yang diperlukan untuk transaksi diatas.
Penyelesaian:
jurnal      
·         Pada saat pembelian hadiah tanggal 2 Februari 2011:
2/2/2011           Persediaan hadiah                   Rp15.000.000
                                     Kas                                                      Rp15.000.000

·         Pada saat mencatat utang hadiah pada ayat jurnal penyesuaian 31 Desember 2011, karena hadiah akan diundi dan diberikan bulan Januari 2012:
31/12/2011       Biaya hadiah penjualan               Rp15.000.000
                                     Utang hadiah yg beredar                          Rp15.000.000

·         Pada saat memberikan hadiah tanggal 5 Januari 2012
5/1/2012           Biaya hadiah                           Rp15.000.000
                                     Persediaan hadiah                               Rp15.000.000

3. Taksiran utang garansi
Pemberian garansi atau penggantian produk dilakukan berdasarkan kontrak penjualan yang diberikan oleh produsen kepada pembeli produknya. Produsen menyatakan menjamin akan memperbaiki atau mengganti produk yang dalam jangka waktu tertentu sejak tanggal penjualannya menampakkan kerusakkan atau kecacatan. Ada dua metode pencatatan Garansi, yaitu:
1.      Metode Cash (diakui bila benar-benar terjadi pengeluaran kas pada saat terjadinya).
2.      Metode Accrual (diakui sesuai dengan terjadinya penjualan tanpa memperhatikan secara riil pengeluaran kasnya).
Jika barang terjual disertai garansi untuk perbaikan, maka pada akhir periode dihitung taksiran jumlah biaya yang akan terjadi dan dicatat:
Biaya Garansi

xxx

Taksiran Utang Garansi

xxx







Contoh:
PT SAFARI memproduksi laptop. Garansi untuk satu unit laptop rata-rata sebesar Rp500.000. harga jual untuk satu unit laptop adalah Rp4.000.000. dalam waktu satu tahun PT SAFARI mampu menjual 500 unit laptop.
Diminta: buatlah jurnal untuk mencatat penjualan, taksiran garansi.
Penyelesaian:
*Mencatat penjualan
Penjualan         = 500 unit @ Rp4.000.000
                        = Rp2.000.000.000
Jurnal

Kas                  Rp 2.000.000.000
            Penjualan                     Rp2.000.000.000
*Mencatat taksiran biaya garansi
Taksiran biaya garansi = 500 x Rp500.000
                                                = Rp250.000.000
Jurnal
Biaya garansi               Rp250.000.000
            Taksiran biaya garansi Rp250.000.000

4.      Taksiran utang pensiun
Biaya pensiun yang dibayarkan selama masa hidup karyawan akan dibebankan sebagai biaya ke periode di mana karyawan tersebut bekerja. Jumlah pensiun yang dibayarkan ditaksir berdasarkan jumlah karyawan, umur, dan jangka waktu pembayaran pensiun kemudian dibagi dengan taksiran jangka waktu bekerja karyawan tersebut. Setiap periode jumlah taksiran tersebut dicatat:
Biaya Gaji dan Upah

xxx


Utang Pensiun

Xxx








Atau

Biaya Produksi tdk Langsung

xxx


Utang Pensiun

xxx







Pada saat pembayaran pensiun, dicatat sebagai berikut:
Utang Pensiun

xxx


Kas

xxx




3.      UTANG-UTANG BERSYARAT (CONTINGENT LIABILITIES)
Utang-utang bersyarat merupakan utang-utang yang sampai pada tanggal neraca masih belum pasti apakah akan menjadi kewajiban atau tidak. Kewajiban Kontigensi juga adalah kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu tetapi tidak diakui karena terdapat kemungkinan besar perusahaan tidak mengeluarkan sumber daya untuk menyelesaikannya, atau jumlah kewajiban tsb tidak dapat diukur secara andal.
·         Jika kewajiban membayar utang pasti timbul (walau jumlah belum pasti), maka utang ini termasuk taksiran utang.
·         Jika kewajiban membayar utang belum pasti (jumlah sudah pasti atau belum pasti), maka utang ini termasuk utang-utang bersyarat
Perbedaan antara taksiran utang dan utang-utang bersyarat adalah kepastian timbulnya kewajiban membayar. Yang termasuk utang-utang bersyarat adalah:
1.      Piutang wesel didiskontokan dan piutang dijaminkan
2.      Endorsemen bersyarat atas wesel-wesel
3.      Sengketa hukum
4.      Tambahan pajak yang belum jelas kepastiannya
5.      Jaminan terhadap utang anak perusahaan
6.      Garansi terhadap penurunan harga barang-barang yang dijual

Contoh:
Piutang Wesel didiskontokan
Wesel dengan nominal Rp1.000.000 berbunga 10% jangka waktu 3 bulan tertanggal 15 April 2011. Pada tanggal 6 Mei 2011 wesel tersebut didiskontokan degan bunga diskonto 8% setahun.

Penyelesaian:
Nilai nominal                                                               Rp1.000.000
Bunga wesel (Rp1.000.000 x 10% x 90/360)             Rp       25.000 +
Nilai saat jatuh tempo                                                 Rp1.025.000
Diskonto (Rp1.025.000 x 8% x 69/360)                     Rp       15.716
                                                                                    Rp1.009.284
Jurnal
6/5/2011          Kas                  Rp1.009.284
                                    Piutang wesel              Rp1.000.000
                                    Pendaptan bunga        Rp       9.284


LATIHAN SOAL
Berikut ini adalah transaksi yang terjadi dalam PT MERDEKA dalam bulan Agustus 2013.
Agust
 1
Pembelian barang dagangan sebesar Rp 15.000.000,- secara kredit dengan syarat pembayaran 3/10, n 30. Perusahaan mencatat dengan metode neto.
 6
Mengeluarkan Wesel sebagai pengganti Utang dagang sebesar Rp 5.000.000,-, bunga wesel 12% setahun
 9
Diterima pelunasan atas transaksi tanggal 1 agustus 2013
18
Pembelian barang dagangan sebesar Rp 9.000.000,- secara kredit.
          23
Diterima  Sewa dari PT PELANGI untuk jangka waktu 8 bulan sebesar Rp 8.000.000
27
Membayar gaji karyawan yang terutang bulan Juli 2013 sebesar Rp 8.800.000
30
Selama bulan Agustus Penjualan sebesar Rp 44.000.000,- termasuk PPn10%
31
PT MERDEKA mengumumkan deviden sebesar Rp 15.000.000,-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar