KEWAJIBAN
JANGKA PENDEK
A. DEFINISI KEWAJIBAN
Dalam akuntansi, utang
didefinisikan sebagai pengorbanan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang yang
memungkinkan terjadi akibat kewajiban suatu badan usaha pada masa kini untuk mentransfer aktiva
atau menyediakan jasa pada badan usaha lain dimasa yang akan datang sebagai akibat transaksi atau kejadian dimasa
lalu.
Dilihat dari
jangka waktu pelunasannya, utang diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu
Utang jangka pendek (utang lancar) dan utang jangka panjang (utang tidak
lancar). Seperti halnya yang telah tercantum di dalam pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No.9 dinyatakan bahwa perusahaan wajib menyajikan
kewajibannya berdasarkan klasifikasi lancar dan tidak lancar pada waktu
menyusun laporan keuangan.Untuk membedakan mana yg merupakan kewajiban lancar
dan tdk lancar adalah jangka waktu jatuh temponya kewajiban janka panjang.
B.
KEWAJIBAN
JANGKA PENDEK (UTANG LANCAR)
Menurut PSAK No9 Kewajiban
jangka pendek adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu
tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama. Yang
dimaksud dengan satu siklus operasi normal adalah waktu yang diperlukan agar
uang kontan dapat diubah menjadi persediaan barang, persediaan barang diubah
menjadi piutang usaha dan akhirnya piutang usaha diubah menjadi uang kontan
kembali.
Pada umumnya, Hutang lancar adalah
kewajiban-kewajiban yang akan diselesaikan pembayarannya dengan menggunakan
sumber-sumber ekonomi yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar atau dengan
menciptakan utang yang baru.
C.
KLASIFIKASI KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
1.
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK YANG JUMLAHNYA
SUDAH PASTI
Kewajiban
jangka pendek yang dikatakan sudah pasti apabila memenuhi dua syarat:
1. Kewajiban
untuk membayar sudah pasti, artinya sudah terjadi transaksi yang menimbulkan
kewajiban membayar.
2. Jumlah
yang harus dibayar sudah pasti.
Jenis
utang yang termasuk dalam kriteria diatas adalah sebagai berikut:
a)
Utang usaha/dagang (account payable)
Utang dagang adalah kewajiban jangka pendek yang timbul
sebagai akibat aktivitas normal perusahaan seperti : Pembelian secara kredit
barang dagangan, bahan baku, perlengkapan kantor, dan sebagainya. Utang dagang
biasanya diakui pada waktu terjadi penyerahan barang atau jasa dari penjual ke
pembeli. Waktu perpindahan hak kepemilikan dan resiko umumnya didasarkan pada
waktu penyerahan barang, namun apabila antara pembeli dan penjual karena suatu
hal tidak memungkinkan dilakukan penyerahan barang secara langsung, maka
penetapan waktu perpindahan hak kepemilikan dan resiko didasarkan pada syarat
pengiriman yang disepakati. Ada dua syarat pengiriman, yaitu:
a. Free
on Board Shipping Point. Dalam FOB Shipping Point perpindahan hak kepemilikan
dan resiko atas barang yang diperjual belikan terjadi pada saat barang keluar
dari gudang penjual atau pada saat barang diserahkan ke pihak pengiriman.
b. Free
on Board Destination. Dalam FOB Destination perpindahan hak kepemilikan dan
resiko barang yang diperjual belikan adalah pada saat barang-barang tsb sampai
di gudang pembeli.
jurnal yang dibuat adalah:
Pembelian
|
xxx
|
||
Utang
dagang
|
xxx
|
Pencatatan
Utang Dagang dapat dilakukan dengan metode bruto atau dengan metode neto.
Contoh :
Pada tanggal 25 Januari PT. Mentari membeli
barang dagangan secara kredit seharga Rp 200.000,- dengan termin 2/10 n/30
Penyelesaian :
Jurnal
(asumsikan
dengan metode neto)
Pembelian Rp
196.000
Utang
Dagang Rp
196.000
Jika potongan tunai tersebut tdk
diambil maka pencatatannya adalah :
Utang Dagang Rp 196.000
Pot. Pembelian yg tdk diambil Rp
4000
Kas Rp
200.000
b)
Hutang Wesel (Notes Payable)
Hutang Wesel
adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang yang akan datang kepada
pihak lain. Timbulnya hutang wesel bisa pada waktu pembelian barang atau jasa
setelah pembelian barang terjadi. Hutang wesel ada yang dijamin, ada juga yang
tanpa jaminan. Selain itu wesel bisa disertai adanya bunga namun bisa juga
tanpa bunga. Dalam praktek, wesel yang timbul karena perdagangan barang,
ditarik melalui perjanjian antara bank dan penarik wesel. Pembeli harus
disetujui lebih dahulu oleh Bank.
Jurnal yang dibuat pada saat
diterbitkan wesel bayar adalah:
Utang
Dagang
|
xxx
|
||
Utang
Wesel
|
xxx
|
Contoh :
Pada tanggal 15 Januari 2010 PT Sulis
membeli sebuah barang dari PT Wiguna dengan harga Rp 100.000,- secara kredit.
Pada tanggal 30 januari 2013 PT Suci menyerahkan sebuah wesel, nominal Rp
100.000,- bunga 5% dg jangka waktu 2 bulan, untuk membayar utangnya.
Diminta:
a.
Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi tanggal 15
januari 2013
b.
Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi tanggal 30
januari 2013
Penyelesaian
:
Pada Tanggal 15 januari 2013
*mencatat pembelian secara kredit
Pembelian Rp 100.000
Utang
Dagang Rp 50.000
Tanggal 30 Januari 2013
*mencatat penerbitan wesel bayar
Utang
Dagang Rp 100.000
Utang
Wesel Rp 100.000
c)
Hutang jangka panjang yang jatuh
tempo
Hutang ini
terjadi jika dalam ketentuan perjanjian hutang jangka panjang yang bersangkutan
menyebutkan pembayaran dengan angsuran. Bagian angsuran yg jatuh tempo dalam
tahun buku yang bersangkutan dibukukan dalam kelompok kewajiban jangka pendek.
Contoh :
Pada tahun 2010 PT Sulis mempunyai utang
kepada Bank dengan jangka waktu 5 tahun sebesar Rp 10.000.000. Pada tahun 2011 perusahaan harus mengangsur Rp 1.500.000.
Penyelesaian
:
Jurnal
Kewajiban
Jangka Panjang (Bank) Rp
1.500.000
Kewajiban
Jangka Pendek (Bank) Rp
1.500.000
Dengan adanya jurnal reklasifikasi
tersebut, maka dalam laporan keuangan akan nampak besarnya kewajiban jangka
pendek sebesar Rp 1.500.000,- sedangkan kewajiban jangka panjang sebesar 8.500.000.
d)
Hutang Deviden
Hutang
Deviden timbul pada saat dewan direksi perusahaan yg berbentuk perseroan
mengumumkan adanya pembagian deviden dan terhutang sampai dengan dibayarnya
deviden. Dengan adanya pengumuman pembagian deviden tersebut menjadikan
keberadaan hutang deviden menjadi pasti.
Jurnal
yang harus dibuat pada saat pengumuman Deviden adalah:
Laba
ditahan
|
xxx
|
||
Utang
deviden
|
xxx
|
Contoh :
Pada tanggal 3 Maret 2013 PT Wiguna
mengumumkan akan membagikan deviden sebesar Rp 2.000.000 yang akan dibayarkan
pada tanggal 3 April 2013.
Penyelesaian:
Jurnal
Mencatat adanya utang deviden
Laba
ditahan Rp
2.000.000
Utang
deviden Rp 2.000.000
e)
Hutang gaji dan hutang Biaya
Hutang Gaji
dan hutang bunga, seperti biaya bunga, biaya iklan, biaya telepon, listrik,
dsb, timbul karena adanya konsep accrual basis yang akan digunakan dalam
akuntansi, yg antara lain menyatakan bahwa biaya yang dinikmati manfaatnya
meskipun belum dibayar harus diakui. Oleh karena itu jika pada akhir periode
terdapat gaji atau biaya yang sudah menjadi kewajiban meskipun belum dibayar
harus diakui adanya hutang.
Jurnal yang dibuat untuk mencatat
utang gaji dan upah adalah:
Gaji dan
Upah
|
Xxx
|
||
Utang Gaji
dan Upah
|
xxx
|
Contoh :
Pada tanggal 31 Desember 2013 data
yang ada pada PT Wiguna menunjukkan adanya upah buruh yang belum dibayar selama
10 hari. Analisa berikutnya menunjukkan bahwa upah buruh per hari sebesar Rp 20.000
Penyelesaian:
Upah =
10 hari @ Rp20.000
=
Rp200.000
Jurnal
Gaji
dan Upah Rp 200.000
Utang
gaji dan upah Rp 200.000
f)
Utang Bonus
Untuk
meningkatkan semangat kerja karyawannya maka biasanya perusahaan pd akhir tahun
memberikan bonus kepada sebagian atau kepada seluruh karyawan. Sedangkan
besarnya bonus yang diberikan bisa didasarkan pada :
1. Gaji pokok
jika
besarnya bonus didasarkan pd gaji pokok, maka dlm perhitungannya tdk ada
masalah karena jumlah bonus yg dibayarkan dapat diketahui dan ditentukan jauh
sebelum dibayarkan.
2. Laba tahun
berjalan
jika
besarnya bonus dihitung berdasarkan pd laba, maka masalah yg timbul adalah laba
yg mana sebagai dasar penentuan besarnya bonus. Ada beberapa dasar yg bisa digunakan, yaitu :
Ø Bonus
dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan PPh
Ø Bonus
dihitung dari laba setelah dikurangi PPh,
sebelum dikurangi bonus
Ø Bonus dihitung dari laba setelah dikurangi
bonus dan PPh.
Untuk memudahkan perhitungan maka
dari beberapa dasar perhitungan bonus diatas dapat dibuatkan persamaan berikut
:
B
|
=
|
bI
|
B
|
=
|
b (I – B)
|
B
|
=
|
b (I – P)
|
B
|
=
|
b (I – B –
P)
|
Keterangan
|
:
|
|
b
|
=
|
Tarif
bonus
|
I
|
=
|
Laba
sebelum bonus dan pajak
|
B
|
=
|
Bonus
dalam rupiah
|
P
|
=
|
Pajak
|
Adapun
pajak (P) dapat dihitung dengan memasukkan tarif pajak (t) dalam persamaan.
sehingga persamaan pajak adalah
P = t ( I – B )
|
||
Jurnal untuk
mencatat utang bonus adalah:
Biaya
Bonus
|
xxx
|
||
Utang
Bonus
|
xxx
|
Jika bonus dibayar, maka jurnal yang dibuat:
Utang
Bonus
|
xxx
|
||
Biaya
Bonus
|
xxx
|
Contoh :
Pada awal tahun 2013 PT Wiguna telah
memberikan bonus kepada seorang manajer
sebesar 10% dari laba perusahaan. Laba tahun 2013 sebelum pemotongan pajak dan
bonus sebesar Rp 5.000.000. adapun tarif pajak yg berlaku adalah 15%.
Diminta :
a. Laba sebelum
bonus dan pajak
c. Laba setelah
pajak tetapi sebelum bonus
d. Laba setelah
pajak dan bonus.
Penyelesaian
:
a. Laba
Sebelum bonus dan Pajak
B = 0,10 x Rp 5.000.000
B = Rp 500.000,-
P = 15% (Rp5.000.000 – Rp500.000)
P = Rp675.000
b. Laba
setelah bonus tetapi sebelum pajak
B = 0,10 (Rp5.000.000 – P)
P = 0,15 (Rp5.000.000 - B)
P dalam persamaan pertama diganti
dengan persamaan kedua, maka B dihitung sebagai berikut:
B = 0,10 [Rp5.000.000 – 0,15(Rp5.000.000
– B)
B = 0,10 (Rp5.000.000 – Rp750.000 +
0,15B)
B = Rp 500.000 - Rp75.000 + 0,015B
B – 0,015 = Rp425.000
0,985B = Rp 425.000
B = Rp425.000 : 0,985
B = Rp431.472,08
PPh dihitung dengan mengganti B dari
persamaan kedua:
P = 0,15 (Rp5.000.000 - B)
P = 0,15 (Rp5.000.000 - Rp431.472,08)
P = Rp4.568.572,92
c.
Laba setelah
pajak tetapi sebelum bonus
B =
0,10 (Rp5.000.000 – B - P)
P =
0,15 (Rp5.000.000 - B)
P dalam persamaan pertama diganti
dengan persamaan kedua, maka B dihitung sebagai berikut:
B =
0,10 [Rp5.000.000 – B - 0,15 (Rp5.000.000 - B)]
B =
0,10 (Rp5.000.000 – B – Rp750.000 + 0,15B)
B =
Rp500.000 – 0,10B – Rp75.000 + 0,015B
B + 0,10B – 0,015B = Rp425.000
1,0985B = Rp425.000
B =
Rp425.000 : 1,0985
B =
Rp368.891,22
PPh dihitung dengan mengganti B dari
persamaan kedua:
P =
0,15 (Rp5.000.000 - B)
P =
0,15 (Rp5.000.000 - Rp368.891,22)
P =
0,15 (Rp4.631.108,78)
P =
Rp694.666,32
g) Uang muka dan Jaminan yang dapat diminta
kembali
Uang
muka yang merupakan pembayaran di muka dari pembeli untuk barang-barang yang
dipesan sebelum barang diserahkan kepada pembeli maka uang muka tersebut
merupakan Utang Jangka Pendek. Sedangkan jaminan yang diminta dari pelanggan
yang dapat ditarik kembali sewaktu-waktu juga merupakan Utang Jangka Pendek.
Contoh:
pada tanggal 1 Januari 2011
perusahaan distributor menerima 300 minuman kemasan dalam botol dari produsen
dan dikirim setiap bulan dengan jumlah yang sama. Botol-botol tersebut harus
dikembalikan setiap 3 bulan sekali kepada produsen. Harga botol minuman
tersebut adalah Rp250. Maka ayat jurnal yang diperlukan oleh Produsen untuk
mencatat transaksi diatas adalah sebagai berikut:
penyelesaian:
harga botol = 300 x 3 x Rp250
=
Rp225.000
Pada saat menerima jaminan
1/1/2011
Kas Rp225.000
Utang jaminan botol
Rp225.000
Pada saat mengembalikan jaminan
31/6/2011
Utang jaminan
botol
Rp225.000
Kas
Rp225.000
h) Dana yang
Dikumpulkan untuk Pihak Ketiga (Utang Pajak)
Perusahaan
kadang-kadang akan menjadi pihak uang mengumpulkan uang dari langganan/pegawai
yang nantinya akan diserahkan pada pihak lain. Pengumpulan ini dapat dilakukan
dengan cara pemotongan upah pegawai atau membebani pembeli dengan jumlah-jumlah
tertentu.
Contoh 1:
Pemotongan
gaji karyawan karena PPh
PT Adiguna setiap bulannya membebani
PPh 15% kepada karyawan. Pajak tersebut nantinya akan disetor ke kas negara. Apabila
gaji karyawan pada bulan Agustus 2013 sebesar Rp2.000.000, maka berapa jumlah
gaji yang akan diterima karyawan pada bulan Agustus? Buat jurnal untuk mencatat
transaksi tersebut.
Penyelesaian:
Perhitungan
Besarnya PPh = 15% x Rp.2.000.000
=
Rp300.000
Gaji yang diterima = Rp2.000.000 – Rp300.000
=
Rp1.700.000
Jurnal
Gaji dan upah Rp2.000.000
Utang
PPh Rp300.000
Kas Rp1.700.000
Contoh 2:
Pembebanan
PPN
Hasil penjualan PT Adiguna bulan
Agustus 2013 sebesar Rp33.000.000 yang sudah termasuk PPN sebesar 10%. Buat
jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Penyelesaian:
Perhitungan
PPN =
10/110 x Rp33.000.000
=
Rp3.000.000
Jurnal
Kas Rp
33.000.000
Penjualan Rp30.000.000
Utang
PPN Rp3.000.000
i).
Pendapatan yang Diterima di Muka
Pendapatan
Diterima di Muka belum boleh diakui sebagai Pendapatan karena perusahaan belum
memberikan kontra prestasinya kepada pihak yang memberikannya. Pendapatan ini
diperlakukan sebagai Kewajiban perusahaan sampai dengan kontra prestasi selesai
dilakukan. misalnya : uang muka yang diterima untuk iklan di TV
Contoh:
Pada bulan April
2014 PT Senja menerima uang sebesar Rp3.000.000 dari PT Jingga atas iklan yang
akan diterbitkan selama 6 bulan. Buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Penyelesaian:
Kas Rp3.000.000
Pendapatan diterima dimuka Rp3.000.000
2. TAKSIRAN UTANG/KEWAJIBAN DIESTIMASI
Biasanya jumlah
kewajiban dari utang sudah dapat ditentukan dari kontrak atau dari perhitungan
dengan dasar tarif tertentu. Terkadang jumlah kewajiban belum jelas tetapi
sudah jelas harus dibayar, maka pada tanggal neraca dilakukan perhitungan
jumlah kewajiban dengan cara taksiran.
Taksiran utang dapat
dikelompokkan sebagai utang jangka pendek atau utang jangka panjang, tergantung
saat pelunasannya. Beberapa taksiran utang jangka pendek dalam neraca adalah:
1.
Taksiran utang pajak penghasilan
2.
Taksiran utang hadiah yang beredar
3.
Taksiran utang garansi
4.
Taksiran utang pensiun
1. Taksiran utang pajak penghasilan
Pada suatu perusahaan
setelah laba diketahui pada akhir periode, diperlukan taksiran besarnya PPh
yang akan menjadi beban tahun yang bersangkutan. Besarnya pajak biasanya
ditaksir terlebih dahulu kemudian akan dicatat dengan jurnal.
Cara menghitung taksiran pajak:
Tarif pajak berlaku x Laba
|
Dicatat dengan jurnal:
Pajak Penghasilan
|
xxx
|
|||||
Utang PPh
|
Xxx
|
|||||
2. Taksiran utang hadiah yang beredar
Utang hadiah adalah kewajiban yang timbul dalam
periode hadiah, karena hadiah tersebut belum diambil oleh pelanggan. Hadiah ini
akan diberikan apabila pembeli memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh
penjual.
Untuk meningkatkan
penjualan, suatu perusahaan dalam menjual produknya menyertakan kupon berhadiah
uang tunai atau barang. Hadiah atas pembelian barang tertentu merupakan biaya
untuk periode di mana penjualan barang tersebut terjadi. Ada hal yang perlu
diperhatikan yaitu:
·
Bila hadiah tersebut habis waktunya pada
akhir periode, maka tidak perlu membuat jurnal penyesuaian
·
Bila jangka waktu pengambilan hadiah
melampaui suatu periode akuntansi, maka pada akhir tahun dibuat jurnal
penyesuaian.
Jumlah utang hadiah yang beredar
dihitung dengan cara:
Taksiran x Jumlah Penjualan
|
Jurnal yang berkaitan dengan utang
hadiah adalah sebagai berikut:
Pada saat pembelian persediaan
Persediaan hadiah
|
xxx
|
|||||
Kas/Utang
Dagang
|
Xxx
|
|||||
Pada saat penyesuaian:
Biaya
Hadiah Penjualan
|
Xxx
|
|||||
Utang
Hadiah yg Beredar
|
Xxx
|
|||||
Pada saat memberikan hadiah
Biaya hadiah
|
Xxx
|
||
Persediaan hadiah
|
xxx
|
Contoh:
Pada tanggal 2 Februari 2011 sebuah
swalayan membeli 30 unit barang untuk hadiah bagi pelanggan yang mengirimkan
kupon berhadiah yang didapat pada saat mereka belanja seharga Rp15.000.000.
hadiah akan diundi pada tanggal 5 januari 2012.
Diminta: Ayat jurnal yang diperlukan
untuk transaksi diatas.
Penyelesaian:
jurnal
·
Pada saat pembelian hadiah tanggal 2 Februari 2011:
2/2/2011
Persediaan
hadiah
Rp15.000.000
Kas
Rp15.000.000
·
Pada saat mencatat utang hadiah pada ayat jurnal
penyesuaian 31 Desember 2011, karena hadiah akan diundi dan diberikan bulan
Januari 2012:
31/12/2011
Biaya hadiah
penjualan
Rp15.000.000
Utang hadiah yg beredar
Rp15.000.000
·
Pada saat memberikan hadiah tanggal 5 Januari 2012
5/1/2012
Biaya
hadiah
Rp15.000.000
Persediaan hadiah
Rp15.000.000
3. Taksiran utang garansi
Pemberian garansi atau
penggantian produk dilakukan berdasarkan kontrak penjualan yang diberikan oleh
produsen kepada pembeli produknya. Produsen menyatakan menjamin akan
memperbaiki atau mengganti produk yang dalam jangka waktu tertentu sejak
tanggal penjualannya menampakkan kerusakkan atau kecacatan. Ada dua metode
pencatatan Garansi, yaitu:
1.
Metode Cash (diakui bila benar-benar
terjadi pengeluaran kas pada saat terjadinya).
2.
Metode Accrual (diakui sesuai dengan
terjadinya penjualan tanpa memperhatikan secara riil pengeluaran kasnya).
Jika barang terjual disertai garansi
untuk perbaikan, maka pada akhir periode dihitung taksiran jumlah biaya yang
akan terjadi dan dicatat:
Biaya Garansi
|
xxx
|
||||
Taksiran Utang Garansi
|
xxx
|
||||
Contoh:
PT SAFARI memproduksi laptop. Garansi
untuk satu unit laptop rata-rata sebesar Rp500.000. harga jual untuk satu unit
laptop adalah Rp4.000.000. dalam waktu satu tahun PT SAFARI mampu menjual 500
unit laptop.
Diminta: buatlah jurnal untuk mencatat
penjualan, taksiran garansi.
Penyelesaian:
*Mencatat penjualan
Penjualan = 500 unit @ Rp4.000.000
=
Rp2.000.000.000
Jurnal
Kas Rp
2.000.000.000
Penjualan Rp2.000.000.000
*Mencatat taksiran biaya garansi
Taksiran biaya garansi = 500 x Rp500.000
=
Rp250.000.000
Jurnal
Biaya garansi Rp250.000.000
Taksiran
biaya garansi Rp250.000.000
4. Taksiran utang pensiun
Biaya pensiun yang
dibayarkan selama masa hidup karyawan akan dibebankan sebagai biaya ke periode
di mana karyawan tersebut bekerja. Jumlah pensiun yang dibayarkan ditaksir
berdasarkan jumlah karyawan, umur, dan jangka waktu pembayaran pensiun kemudian
dibagi dengan taksiran jangka waktu bekerja karyawan tersebut. Setiap periode
jumlah taksiran tersebut dicatat:
Biaya Gaji dan Upah
|
xxx
|
|||||
Utang Pensiun
|
Xxx
|
|||||
Atau
Biaya Produksi tdk Langsung
|
xxx
|
||||
Utang Pensiun
|
xxx
|
||||
Pada saat pembayaran pensiun, dicatat sebagai berikut:
Utang Pensiun
|
xxx
|
||
Kas
|
xxx
|
3. UTANG-UTANG BERSYARAT (CONTINGENT
LIABILITIES)
Utang-utang bersyarat
merupakan utang-utang yang sampai pada tanggal neraca masih belum pasti apakah
akan menjadi kewajiban atau tidak. Kewajiban Kontigensi juga adalah kewajiban
kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu tetapi tidak diakui karena
terdapat kemungkinan besar perusahaan tidak mengeluarkan sumber daya untuk
menyelesaikannya, atau jumlah kewajiban tsb tidak dapat diukur secara andal.
·
Jika kewajiban membayar utang pasti
timbul (walau jumlah belum pasti), maka utang ini termasuk taksiran utang.
·
Jika kewajiban membayar utang belum
pasti (jumlah sudah pasti atau belum pasti), maka utang ini termasuk
utang-utang bersyarat
Perbedaan antara taksiran utang dan
utang-utang bersyarat adalah kepastian timbulnya kewajiban membayar. Yang
termasuk utang-utang bersyarat adalah:
1.
Piutang wesel didiskontokan dan piutang
dijaminkan
2.
Endorsemen bersyarat atas wesel-wesel
3.
Sengketa hukum
4.
Tambahan pajak yang belum jelas
kepastiannya
5.
Jaminan terhadap utang anak perusahaan
6.
Garansi terhadap penurunan harga
barang-barang yang dijual
Contoh:
Piutang Wesel didiskontokan
Wesel dengan nominal Rp1.000.000 berbunga 10% jangka
waktu 3 bulan tertanggal 15 April 2011. Pada tanggal 6 Mei 2011 wesel tersebut
didiskontokan degan bunga diskonto 8% setahun.
Penyelesaian:
Nilai nominal Rp1.000.000
Bunga wesel (Rp1.000.000 x 10% x 90/360) Rp 25.000 +
Nilai saat jatuh tempo Rp1.025.000
Diskonto (Rp1.025.000 x 8% x 69/360) Rp 15.716 –
Rp1.009.284
Jurnal
6/5/2011 Kas Rp1.009.284
Piutang wesel Rp1.000.000
Pendaptan bunga Rp 9.284
LATIHAN
SOAL
Berikut ini adalah
transaksi yang terjadi dalam PT MERDEKA dalam bulan Agustus 2013.
Agust
1
|
Pembelian barang
dagangan sebesar Rp 15.000.000,- secara kredit dengan syarat pembayaran 3/10,
n 30. Perusahaan mencatat dengan metode neto.
|
6
|
Mengeluarkan
Wesel sebagai pengganti Utang dagang sebesar Rp 5.000.000,-, bunga wesel 12%
setahun
|
9
|
Diterima
pelunasan atas transaksi tanggal 1 agustus 2013
|
18
|
Pembelian barang
dagangan sebesar Rp 9.000.000,- secara kredit.
|
23
|
Diterima Sewa dari PT PELANGI untuk jangka waktu 8
bulan sebesar Rp 8.000.000
|
27
|
Membayar gaji
karyawan yang terutang bulan Juli 2013 sebesar Rp 8.800.000
|
30
|
Selama bulan
Agustus Penjualan sebesar Rp 44.000.000,- termasuk PPn10%
|
31
|
PT MERDEKA
mengumumkan deviden sebesar Rp 15.000.000,-.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar