makalah konsep manusia
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk yang paling
sempurna yang diciptakan di dunia ini. Manusia memiliki semua yang tidak
dimiliki oleh makhluk lain. Alangkah beruntungnya manusia yang dilahirkan dengan diberikan
sejuta kelebihan dan kelengkapan fisik dan akal pikiran dibandingkan dengan
makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia diciptakan di dunia ini sebagai
khalifah, dimana Allah Swt telah menugaskan manusia untuk menjaga serta
mengatur apa-apa yang ada di mika bumi ini.
1.2.
TUJUAN
Adapun
tujuan penulis menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Umum Pendidikan Agama Islam serta untuk mengetahui lebih luas tentang konsep
manusia diciptakan di muka bumi ini.
1.3.
RUMUAN MASALAH
1.Apa hakikat manusia ?
2.Mengapa manusia disebut sebagai khalifah ?
3.Apa peranan manusia sebagai
khalifahtullah ?
4.Apa tugas manusia diciptakan dimuka bumi ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
HAKIKAT MANUSIA
Charles
Darwin (1809-1882), seorang sarjana biologi dari inggris, dalam bukunya On Thee Origin Of Species berusaha mengetengahkan
sebuah teori mengenai asal-usul species melalui seleksi alam atau bertahannya
ras-ras yang beruntung dalam perjuangan untuk mempertahankan penghidupannya.
Dia berusaha menemukan mekanisme, yang melalui mekanisme tersebut, satu species
dapat berubah menjadi species lain. Oleh pengikut-pengikut Darwin yang ekstrem
menjadikan Darwinisme itu sebagai acuan untuk mengatakan bahwa manusia adalah
keturunan kera.
tetapi
lambat laun atas Darwinisme tersebut P.P
Grassse dalam bukunya L’homme
Accusation (manusia sebagai tetuduh), berusaha mencari bukti kebenaran
Darwinisme. Kemudian melalui beberapa penelitian dan pengumpulan pendapat para
ahli tentang perbedaan monyet dan kera perbedaan antara kera dengan siamang,
maka akhirnya P.P Grasse menyimpulkan antara
manusia dengan kera berbeda. Dan pendapat tentang manusia keturunan kera tidak
terbukti.
Ada
juga Pandangan evolusionisme tentang manusia, bahwa manusia adalah binatang
mamalia yang cerdas, berbeda sekali dengan pandangan spiritualisme Hindu, bahwa
hakikat manusia adalah roh. Dan akhirnya Al-Qur’an-lah yang mampu memberikan
jawaban atas pertanyaan dari mana manusia berasal? Dan bangaimana manusia
diciptakan. Dalam Al-Qur’an ada beberapa kata untuk merujuk kepada arti manusia
yaitu insan, basyar dan bani adam. Kata basyar terambil dari akar kata yamg
pada mulanya berarti “penampakan sesutau yang baik dan indah”. Dari akar kata
yang sama lahir kata basyarah yang
berarti kulit. Manusia disebut basyar karena kulitnya tampak jelas. Dan berbeda
jauh dari kulit hewan lain.
Sedangkan kata insan terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis dan
tampak. Kata insan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan
seluruh totalitasnya. Jiwa dan raga, psikis, kecerdasan, mental dan fisik,
manusia yang berbeda dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Yang jelas sekali
kita dapat melihat bahwa Al-Qur’an menyebutkan jiwa manusia sebagai suatu
sumber khas pengetahuan. Menurut Al-Qur’an seluruh alam raya ini merupakan
manifestasi Allah, di dalamnya terdapat tanda-tanda serta berbagai bukti untuk
mencapai kebenaran. Dua kata ini, yakni basyar dan insan, sudah cukup
menggambarkan hakikat manusia dalam Al-Qur’an. Dari dua kata ini, kami
menyimpulkan bahwa definisi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna,
yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga,
jasmani dan rohani, sehingga memungkinkannya untuk menjadi wakil Allah di muka
bumi (khaliifah Allah fii al-ardl).
Sedangkan Bani adam menunjukan pada semua manusia
sebagai makhluk sosial. (Quraish shihab, 2000:278)
Allah menciptakan manusia yang terdiri dari materi
dan roh, melalui tahapan-tahapan, dari tanah berlumpur hitam yang diberi bentuk
dan kemudian menjadi tanah kering seperti tembikar, kemudian setilah
disempurnakan bentuknya. Allah meniupkan roh. Maka jadilah Adam. (lihat Q.S.
Al-Hijr : 28-29).
2.2.
PROSES KEJADIAN MANUSIA
Manusia dalam
pandangan islam ada dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani manusia
bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati tanah. sedangkan roh
manusia merupakan substansi immateri, yang keberadaannya di alam baqa nanti
merupakan rahasia Allah SWT. Proses kejadian manusia telah dijelaskan dalam
Al-Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah SAW. Tentang proses kejadian manusia,
Allah SWT. Telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al- mukminin ayat 13-14 yang
berbunyi:
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ .
Artinya: “dan
sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal )dari
tanah. Kemudian airmani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami
jadikan dia makhluk yanng (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang
paling baik.” (Q.S. Al Mukminun : 13-14)
Dalam Q.S As
Sajadah ayat 7-9 dijelaskan pula proses kejadian manusia, yanng artinya : yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya dan yanng memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripatu yang hina. Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan kedalam roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi
kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
(Q.S As Sajadah : 7-9)
Dalam Hadits
Rassulullah SAWW tentanng kejadian manusia, beliau bersabda yang artinya : “sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan
kejadiaannya dalam perut ibunya 40 hari sebagai nutfah, kemudian sebagai alaqah
seeperti itu pula (40 hari), lalu sebagai mudgah seperti itu, kemudian diutus
malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh kedalam tubuhnya.” (Hadits
yang diriwayatkan Bukhari r.a muslim)
Ketika masih
berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum mempunyai ruh,
karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan. Oleh karena itu,
yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan roh, tetapi kehidupan itu sendiri
sudah ada sejak manusia dalam bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri
mempunyai dua daya, yaitu daya pikir yanng disebut dengan akal yang berpuat di
otak, serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya
merupakan substansi dari roh manusia.
2.3. MANUSIA
SEBAGAI KHALIFAHTULLAH
Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah
sebagai khalifah di bumi. Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini
adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah
untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di
atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam
rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai
kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.
Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu
di bumi? Dan bagaimanakah manusia melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta
bagaimanakah manusia bisa mencapai kesenangan dunia dan ketenangan akhirat
tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai tiga pandangan ini
kepada manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah Al-Baqarah ayat 30:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang
yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan
berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“.
(Q.S. Al-Baqarah: 30)
Khalifah adalah seseorang yang
diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika
manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas
tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama
manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah.
Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah,
sebenarnya tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai
“kedudukan” ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang bersifat keduniaan
sebenarnya merupakan penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah.
Jika seseorang menyadari bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran
dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun
yang akan menyelewengkan jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang
akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.
Jabatan manusia sebagai khalifah adalah
amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan yang diberikan oleh atasan
kita, ataupun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan amanah
Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah. Sebagai khalifatullah,
manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak kepada semua makhluknya.
2.4. PERANAN
MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT. Di muka bumi, ada
dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari
kiamat. Pertama memakmurkan bumi (al
‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang
dari pihak manapun (ar ri’ayah).
Memakmurkan Bumi
Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan
seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnya hasil eksplorasi itu dapat
dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak
punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.
2.
Memelihara Bumi
Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya
sebagai SDM. Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan
menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang
rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena itu, hal semacam itu
perlu dihindari.
Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan
manusia mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau
penguasa (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar
memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud
adalah agama (Islam).
Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk
memelihara bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang
membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan
cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi – nabi
sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat
kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti
yang Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang Artinya : dan
telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu
akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar“. (QS Al Isra : 4)
Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan
menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan
pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firmannya
dalam surat Al Qashash ayat 77 yang Artinya: dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS AL Qashash : 7)
a.
TUGAS MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya.
Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun.
Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah
yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.
Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah
yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya
oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau
dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
Ibadah ‘ammah (umum), yaitu
pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas
dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT
Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan
Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang
berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan
bathin. Sedangkan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan
dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana
firman Allah SWT yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada
Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah
hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)
Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan
diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah
kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara
beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur
sampai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.
Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunyi
tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian
yang dikehendaki oleh Allah SWT adalah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi
bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam
segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.
Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat
dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada
Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala
larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya.
Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah
dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
KESIMPULAN
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa manusia
diciptakan di muka bumi ini dan di utus oleh Allah SWT sebagai khalifah, dimana
manusia berperan sebagai pengatur segala sesuatu urusan yang ada dimuka bumi.
Jadi, manusia adalah makhluk Allah yang sangat berpengaruh terhadap keadaan
muka bumi ini. Apakah bumi ini akan sejahtera atau mungkin akan menjadi binasa
ditangan manusia. Semua itu tergantung pada kesadaran diri setiap manusia.
3.2.
SARAN
Manusia adalah
makhluk ciptaan Allah SWT. Yang paling sempurna, dan tentunya mempunyai peran
penting dalam mengatur apa-apa yang ada dimuka bumi. Maka dari itu, kita
sebagai manusia yang beriman harus menjaga amanah yang diberikan oleh Alah SWT.
Dengan sebaik-baiknya yaitu dengan cara menjaga dan melakukan tugas sebagai
khalifah dengan baik. Utamakanlah dan ingatlah Dzat yang menciptakan kita, yang
telah memberikan kehidupa dan jangan
sampai kebahagiaan dunia membuat kita sirna akan kekuasaan Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar