SpongeBob SquarePants

Jumat, 06 Desember 2013

makalah konsep manusia

BAB 1

PENDAHULUAN


1.1. LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan di dunia ini. Manusia memiliki semua yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Alangkah beruntungnya  manusia yang dilahirkan dengan diberikan sejuta kelebihan dan kelengkapan fisik dan akal pikiran dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia diciptakan di dunia ini sebagai khalifah, dimana Allah Swt telah menugaskan manusia untuk menjaga serta mengatur apa-apa yang ada di mika bumi ini.


1.2. TUJUAN

Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Umum Pendidikan Agama Islam serta untuk mengetahui lebih luas tentang konsep manusia diciptakan di muka bumi ini.


 


1.3. RUMUAN MASALAH


1.Apa hakikat manusia ?


2.Mengapa manusia disebut sebagai khalifah ?


3.Apa peranan manusia sebagai khalifahtullah ?


4.Apa tugas manusia diciptakan dimuka bumi ?


 

 


 


 

BAB II


PEMBAHASAN


2.1. HAKIKAT MANUSIA


Charles Darwin (1809-1882), seorang sarjana biologi dari inggris, dalam bukunya On Thee Origin Of Species berusaha mengetengahkan sebuah teori mengenai asal-usul species melalui seleksi alam atau bertahannya ras-ras yang beruntung dalam perjuangan untuk mempertahankan penghidupannya. Dia berusaha menemukan mekanisme, yang melalui mekanisme tersebut, satu species dapat berubah menjadi species lain. Oleh pengikut-pengikut Darwin yang ekstrem menjadikan Darwinisme itu sebagai acuan untuk mengatakan bahwa manusia adalah keturunan kera.


tetapi lambat laun atas Darwinisme tersebut P.P  Grassse dalam bukunya L’homme Accusation (manusia sebagai tetuduh), berusaha mencari bukti kebenaran Darwinisme. Kemudian melalui beberapa penelitian dan pengumpulan pendapat para ahli tentang perbedaan monyet dan kera perbedaan antara kera dengan siamang, maka akhirnya P.P Grasse  menyimpulkan antara manusia dengan kera berbeda. Dan pendapat tentang manusia keturunan kera tidak terbukti.


Ada juga Pandangan evolusionisme tentang manusia, bahwa manusia adalah binatang mamalia yang cerdas, berbeda sekali dengan pandangan spiritualisme Hindu, bahwa hakikat manusia adalah roh. Dan akhirnya Al-Qur’an-lah yang mampu memberikan jawaban atas pertanyaan dari mana manusia berasal? Dan bangaimana manusia diciptakan. Dalam Al-Qur’an ada beberapa kata untuk merujuk kepada arti manusia yaitu insan, basyar dan bani adam. Kata basyar terambil dari akar kata yamg pada mulanya berarti “penampakan sesutau yang baik dan indah”. Dari akar kata yang sama lahir  kata basyarah yang berarti kulit. Manusia disebut basyar karena kulitnya tampak jelas. Dan berbeda jauh dari kulit hewan lain.


Sedangkan kata insan terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Kata insan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. Jiwa dan raga, psikis, kecerdasan, mental dan fisik, manusia yang berbeda dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Yang jelas sekali kita dapat melihat bahwa Al-Qur’an menyebutkan jiwa manusia sebagai suatu sumber khas pengetahuan. Menurut Al-Qur’an seluruh alam raya ini merupakan manifestasi Allah, di dalamnya terdapat tanda-tanda serta berbagai bukti untuk mencapai kebenaran. Dua kata ini, yakni basyar dan insan, sudah cukup menggambarkan hakikat manusia dalam Al-Qur’an. Dari dua kata ini, kami menyimpulkan bahwa definisi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga, jasmani dan rohani, sehingga memungkinkannya untuk menjadi wakil Allah di muka bumi (khaliifah Allah fii al-ardl). Sedangkan  Bani adam menunjukan pada semua manusia sebagai makhluk sosial. (Quraish shihab, 2000:278)


Allah menciptakan manusia yang terdiri dari materi dan roh, melalui tahapan-tahapan, dari tanah berlumpur hitam yang diberi bentuk dan kemudian menjadi tanah kering seperti tembikar, kemudian setilah disempurnakan bentuknya. Allah meniupkan roh. Maka jadilah Adam. (lihat Q.S. Al-Hijr : 28-29).


2.2. PROSES KEJADIAN MANUSIA


Manusia dalam pandangan islam ada dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati tanah. sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri, yang keberadaannya di alam baqa nanti merupakan rahasia Allah SWT. Proses kejadian manusia telah dijelaskan dalam Al-Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah SAW. Tentang proses kejadian manusia, Allah SWT. Telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al- mukminin ayat 13-14 yang berbunyi:


ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ .


 Artinya: “dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal )dari tanah. Kemudian airmani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yanng (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S. Al Mukminun : 13-14)


Dalam Q.S As Sajadah ayat 7-9 dijelaskan pula proses kejadian manusia, yanng artinya : yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yanng memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripatu yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Q.S As Sajadah : 7-9)


Dalam Hadits Rassulullah SAWW tentanng kejadian manusia, beliau bersabda yang artinya : “sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiaannya dalam perut ibunya 40 hari sebagai nutfah, kemudian sebagai alaqah seeperti itu pula (40 hari), lalu sebagai mudgah seperti itu, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh kedalam tubuhnya.” (Hadits yang diriwayatkan Bukhari r.a muslim)


Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan. Oleh karena itu, yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan roh, tetapi kehidupan itu sendiri sudah ada sejak manusia dalam bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri mempunyai dua daya, yaitu daya pikir yanng disebut dengan akal yang berpuat di otak, serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya merupakan substansi dari roh manusia.


 


2.3. MANUSIA SEBAGAI  KHALIFAHTULLAH


Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.


Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah manusia melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa mencapai kesenangan dunia dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai tiga pandangan ini kepada manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah Al-Baqarah ayat 30:


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. Al-Baqarah: 30)


Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah.


Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang bersifat keduniaan sebenarnya merupakan penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah. Jika seseorang menyadari bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.


Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan yang diberikan oleh atasan kita, ataupun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah. Sebagai khalifatullah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak kepada semua makhluknya.


 


2.4.  PERANAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH


Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT. Di muka bumi, ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama memakmurkan bumi (al ‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).


Memakmurkan Bumi


Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnya hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.


2. Memelihara Bumi


Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM. Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena itu, hal semacam itu perlu dihindari.


Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama (Islam).


Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi – nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar“. (QS Al Isra : 4)


Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat 77 yang Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS AL Qashash : 7)


a.         TUGAS MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK


Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun. Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.


Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.


Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT


Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedangkan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)


Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur sampai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.


Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunyi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adalah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.


Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.


 


 


 


 


BAB III


PENUTUP


3.1. KESIMPULAN


Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa manusia diciptakan di muka bumi ini dan di utus oleh Allah SWT sebagai khalifah, dimana manusia berperan sebagai pengatur segala sesuatu urusan yang ada dimuka bumi. Jadi, manusia adalah makhluk Allah yang sangat berpengaruh terhadap keadaan muka bumi ini. Apakah bumi ini akan sejahtera atau mungkin akan menjadi binasa ditangan manusia. Semua itu tergantung pada kesadaran diri setiap manusia.


 


3.2. SARAN


            Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Yang paling sempurna, dan tentunya mempunyai peran penting dalam mengatur apa-apa yang ada dimuka bumi. Maka dari itu, kita sebagai manusia yang beriman harus menjaga amanah yang diberikan oleh Alah SWT. Dengan sebaik-baiknya yaitu dengan cara menjaga dan melakukan tugas sebagai khalifah dengan baik. Utamakanlah dan ingatlah Dzat yang menciptakan kita, yang telah memberikan kehidupa dan  jangan sampai kebahagiaan dunia membuat kita sirna akan kekuasaan Allah SWT.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar